Sebuah blog yang berisikan tentang perjalanan wisata sejarah dan perjalanan kehidupan

Kamis, 28 Desember 2023

Membersamai Ribuan Rekan Disabilitas Rekreasi ke Dufan dalam Perayaan Hari Disabilitas Internasional 2023






Berkunjung ke Dufan merupakan sesuatu yang istimewa untuk saya.

Pasalnya, dengan biaya yang dikatakan tidak murah, untuk menikmati sejumlah wahana seru di Dufan tanpa membawa anak-anak adalah hal mustahil yang bisa dilakukan, hehhee.

Namun, berkat menjadi blogger, bisa masuk ke Dufan bebas bayar dan diberi kesempatan untuk bisa bergabung bersama ribuan rekan-rekan penyandang disabilitas membuat makna berbeda buat saya.

Kemarin, Kamis (07/12/2023) Dinas Sosial DKI Jakarta yang berkerjasama dengan Pam Jaya dan Dufan membuat acara untuk rekan-rekan penyandang Disabilitas se-Jakarta.

Hal ini merupakan bagian dari perayaan Hari Disabilitas Internasional yang dikutip dari situs Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah ditetapkan sejah tahun 1992.

Perayaan ini merupakan pengingat bahwa penyandang disabilitas juga memiliki hak-hak yang sama seperti manusia normal yang lain. Sejumlah hak tersebut telah diatur dalam undang-undang.

Di Indonesia, hak-hak untuk para disabilitas diatur dalam UU nomor 19 tahun 2011.

Dikutip dari web dp3appkb.bantulkab.go.id hak-hak tersebut meliputi :

1. Hak Kesetaraan dan Non-Diskriminasi,

2. Hak Aksesbilitas,

3. Hak untuk hidup,

4. Hak Peningkatan Kesadaran, dan

5. Hak Kebebasan dari Eksploitasi dan Kekerasan.


Salah satu upaya dari Dinas Sosial DKI Jakarta untuk menjalankan hak-hak para Penyandang Disabilitas, dibuatlah acara rekreasi ini.


Pukul 9 pagi, saya dan rekan blogger, Pak Taufik Uieks dan Pak Bugi, juga vlogger Mas Han dari Ayo Telusuri, dan 13 orang peserta disabilitas bergabung bersama Tim Tour Guide Wisata Kreatif Jakarta yang terdiri dari Mbak Ira Lathief, Shella, Mutia, dan Regine, sebagai salah satu komunitas tour guide yang dipilih oleh Dinas Sosial DKI berkumpul di pintu masuk Gerbang Barat Dufan.

Seluruh peserta diminta memakai kaos dan topi dari pemkot yang diberikan secara gratis.

Setelah melewati gerbang barat saya cukup terkejut ternyata jumlah peserta yang hadir diperkirakan lebih dari 1000 orang. Mereka adalah sejumlah penyandang disabilitas mulai dari penyandang disabilitas fisik, intelektual, mental, dan sensorik. Usianya ditaksir mulai dari 4 tahun sampai dengan 65 tahun.

Koleksi pribadi


Tidak ada pemandangan yang menampakkan kesedihan, semua teman-teman disabilitas terlihat sangat senang bisa dikumpulkan dalam ruang terbuka dari berbagai penjuru Jakarta.

Selain mendapat fasilitas kaos dan topi, kami pun mendapatkan nasi kotak dan snack box dari pemkot DKI. Semua peserta baik penyandang disabilitas maupun panitia mendapatkan menu yang sama. 

Walau jam makan siangnya terkesan menjadi lebih cepat, tapi semua peserta terlihat sportif mengikuti jadwal yang sudah disusun untuk oleh panitia.

Selepas acara makan bersama, kami pun masuk ke area inti Dufan. Seperti manusia normal, rekan-rekan disabilitas juga mengantri di depan pintu masuk. Walau memiiki keterbatasan, bisa dikatakan mereka cukup mandiri kecuali yang kondisinya memang sangat tidak memungkinkan ada keluarga yang menemani.

Tak jarang pula, sesama penyandang disabilitas saling bantu satu sama lain. Misal, untuk jalan yang agak menanjak, rekan tuna daksa yang menggunakan kursi roda akan dibantu oleh rekan tuna rungu. Juga dalam berkomunikasi, jika peserta tuna rungu tidak bisa mendengar arahan atau informasi maka rekan tuna daksa akan membantu menggunakan bahasa isyarat.

Yang unik, teman-teman tuna netra berjalan berbaris ke belakang saling memegang bahu rekannya seperti main kereta-keretaan.


Dokpri / rekan-rekan tunanetra berjalan berbaris


Masuk di area inti Dufan, semua peserta lebih dulu bergabung ke area upacara pembukaan Perayaan Hari Disabilitas Internasional 2023.

Acara ini dihadiri oleh Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Winarto dan Direktur Operasional, Eddy Prastiyo untuk menyambut Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta, Bapak Heru Budi Hartono yang memberikan bantuan lengan bionik, pembagian kartu Trans Jakarta, sampai dengan SIM D yaitu SIM khusus menyandang disabilitas untuk mengemudikan kendaraan bermotor jenis kendaraan khusus bagi penyandang disabilitas.


Dok Grup WKJ / Salah satu rekan tuna Daksa Pak Guntur bersama Pj Gubernur DKI Pak Heru Budi Hartono


Tak hanya itu, hadir pula Kepala Dinas Sosial DKI, Bapak Premi Lasari dan sejumlah jajaran BUMD DKI Jakarta. Tema yang diusung kali ini yakni "Bersatu Dalam Aksi Untuk Menyelamatkan dan Mencapai Sustainable Sustainable Development Goals (SDGs) untuk, Dengan, dan Oleh Penyandang Disabilitas".

Di acara pembukaan tersebut, diadakan pentas seni oleh para rekan disabilitas.


Dokpri / pentas seni rekan disabilitas 


Dokpri 


Setelah upacara pembukaan selesai, semua peserta diperbolehkan mengunjungi dan bermain di sejumlah wahana yang tersedia, seperti Komidi Putar, Turangga-Rangga, Kora-Kora, Baku Toki, Zig-Zag, Kolibri, Ontang Anting, Pontang-Pontang, Bianglala, Istana Boneka, Kampung Durian Runtuh Ipin Upin dan masih banyak lagi.



Dokpri / saat naik Wahana Bianglala

Dok Grup WKJ / Saat naik wahana Kora-Kora




Dok Grup WKJ / Saat di wahana Zig-Zag

Walau begitu ada beberapa wahana yang dibatasi untuk penyandang disabilitas. Seperti wahana Baling-baling. Untuk penyandang tuna netra dan tuna daksa tidak diperbolehkan menaiki wahana ini.

Suasana Dufan yang ramai karena ada juga kelompok-kelompok besar lain yang juga rekreasi, membuat pemandangan antrian panjang hampir ada di semua wahana. Sehingga panitia memilihkan beberapa wahana yang bisa dimainkan oleh seluruh penyandang disabilitas.

Untuk proses mengantri masuk wahana, dibedakan antara rekan disabilitas dengan yang umum. Ada akses jalan khusus yang disediakan sebagai fasilitas agar para rekan disabilitas tidak perlu ikut antri mengular seperti yang lainnya.

Yang cukup menjadi perhatian saya adalah petugas Dufan yang secara spontan selalu membantu rekan disabilitas naik dan turun dari wahana. Mulai dari memapah hingga menggendong tak sungkan dilakukan. Senyum dan sapa juga selalu ada mana kali kami berpapasan.


Dokpri/ momen petugas Dufan bernama Mas Suro menggendong peserta disabilitas tuna daksa ke kursi rodanya


Terlihat acara ini memang benar-benar dipersiapkan dengan matang untuk menerima kedatangan rekan disabilitas.

Untuk rekan-rekan yang ingin jajan selama mengelilingi area dalam Dufan, tersedia boots makanan dan minuman. Mulai dari harga 5.000 hingga puluhan ribu rupiah. Karena sudah mulai musim hujan, dan ada permainan yang memungkinkan pakaian basah, ada pula penjual jas hujan plastik di sana.

Sehingga untuk rekan disabilitas yang belum mendapatkan kesempatan untuk ikut rekreasi bersama pemkot DKI ini jangan kecil hati, ya. Teman-teman bisa tetap rekreasi secara mandiri, karena Dufan cukup memfasilitasi kendala-kendala yang muncul selama ingin menikmati wahana-wahana yang disediakan.

Sebagai penutup, saya ucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas kesempatan yang sudah diberikan pada kami untuk meliput kegiatan keren ini.

Terima kasih juga untuk Wisata kreatif Jakarta yang sudah menjembatani kami para blogger bergabung dalam acara hebat ini.


Salam sayang,

Ajeng Leodita


Dok Grup WKJ


Dok Grup WKJ



 

Target 200 Triliun dari Sektor Pariwisata, Cukupkah Hanya dengan Usulan Visa Gratis?






ilustrasi visa (iStockPhoto/belterz via KOMPAS.com)



Pembangunan di sektor pariwisata sedang gencar dilakukan di Indonesia, hal ini merupakan titik balik pasca pandemi Covid-19 yang juga sempat menyerang Indonesia.

Beragam upaya dilakukan pemerintah guna mengembalikkan minat wisatawan domestik maupun mancanegara pada salah satu sektor penyumbang devisa nomor 1 di Indonesia ini.

Bahkan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno pada hari Senin 18 Desember 2023 lalu sempat menyatakan ada 20 negara yang diusulkan mendapatkan fasilitas bebas visa kunjungan atau visa gratis masuk ke Indonesia. Diantaranya Australia, China, India, Korea Selatan, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Qatar. Lalu Uni Ermirat Arab, Arab Saudi, Belanda, Jepang, Rusia, Taiwan, Selandia Baru, Italia, dan Spanyol.

Walau masih berupa rencana, namun hal ini cukup menarik perhatian. Pasalnya, apakah efektif jika usulan tersebut benar-benar diberlakukan? Padahal salah satu faktor turis asing liburan ke Indonesia karena biaya yang relatif murah dibanding negara lain. Apa perlu sampai gratis visa kunjungan?

Apakah akan tercapai misi dari Menparekraf yang menargetkan 200 triliun di tahun depan dengan pemberlakuan ini?

Dari berbagai sumber dirangkum, 3 faktor utama yang membuat wisatawan asing tertarik untuk berkunjung ke Indonesia yakni, budget terjangkau, destinasi wisata yang unik, serta keindahan alam dan kebudayaan yang beragam.

Lantas apa yang mengakibatkan target di sektor ini masih belum tercapai?

Tempat wisata yang masih belum banyak tereksplor

Sebagai orang yang pernah beberapa kali menyempatkan diri untuk berwisata di dalam negeri, saya melihat lokasi wisata di sejumlah daerah belum dieksplor dengan maksimal. Seperti beberapa tempat wisata di Pulau Madura. Seperti Museum Keraton Sumenep. Makam Raja-Raja Asta Tinggi Sumenep, dan beberapa tempat lain di sana yang masih sepi turis asing.

Memang, saya sengaja mendatangi tempat wisata yang dinyatakan masih sepi pengunjung oleh masyarakat sekitar. Dan ternyata memang sesepi itu. Malah jadi terkesan creepy.

Jika kita mencari melalui mesin pencari Google, tempat wisata terpopuler di Indonesia yang akan muncul lagi dan lagi, Bali, Lombok, Canggu, Komodo, Kepulauan Gili, Nusa Penida, Kuta, dan sejumlah area lain di Bali Nusra.

Mengutip dari Hindu Ensiklopedi Indonesia, Bali jauh lebih terkenal dari Indonesia karena Bali lebih dulu diperkenalkan oleh Belanda daripada negaranya Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah nama Pulau Bali sudah ada sejak 914 Masehi, sebelum Indonesia lahir.

Hal itu menjadi salah satu daya tarik tersendiri dari pulau dewata dan area-area di sekitarnya. Selain itu, masyarakat lokal juga menyadari betul "modal" yang dimiliki daerahnya bisa menghasilkan devisa negara, sehingga mereka memanfaatkan hal tersebut dengan memaksimalkan potensi yang ada.

Seiring berjalannya waktu, tempat yang populer akan semakin populer, dan yang memang kurang dikenal akan makin tersisihkan.

Kurangnya pemanfaatan media sosial untuk menarik atensi turis asing

Sejumlah media sosial memberikan keleluasaan pada penggunanya untuk mengunggah foto dan video hasil kreasi mereka. Seperti Facebook, Tiktok dan Instagram. Sayangnya, hal tersebut tidak dimanfaatkan secara cermat. Mayoritas masyarakat Indonesia masih lebih senang mengunggah hal-hal yang bisa dikatakan kurang bermanfaat seperti gemar mengangkat isu-isu yang belum dapat dibuktikan kebenarannya.

Entah belum menyadari, atau tidak peduli, mengunggah dokumentasi tempat wisata ke media sosial sekalipun lokasinya tidak populer bisa menjadi salah satu ide mengajak orang untuk ikut berkunjung.

Karena masing-masing orang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap sebuah objek. Bisa di mata kita biasa saja, tapi Istimewa di mata orang lain.

Tak hanya itu, pihak pengelola tempat wisata juga kurang memanfaatkan media sosial sebagai pusat informasi bagi calon pengunjung yang ingin datang. Ada beberapa tempat wisata yang mempunyai akun media sosial namun sayangnya pembaharuan informasi tidak dibuat secara berkala. Sehingga akun tersebut seperti akun bodong, padahal pada bionarasi di profil tertulis ini merupakan akun resmi tempat wisata tersebut.

Jika pengelola akun tak bisa berbahasa Inggris, jangan khawatir, hampir di semua media sosial sudah ada fitur translate. Cukup sekali klik maka bahasa yang digunakan bisa berubah sesuai negara si pencari informasi.

Jangan lupa penggunaan hastag yang sesuai pada tiap unggahan, hal itu cukup penting untuk mempermudah mesin pencari menemukan unggahan yang diharapkan.

Koleksi Pribadi

Kurangnya atensi masyarakat pada wisata lokal

Budaya gengsi masih sangat melekat pada jiwa orang Indonesia. Gengsi ini termasuk dalam pola liburan. Mengunjungi tempat-tempat yang kurang popular dianggap sesuatu yang tak layak dikisahkan. Indonesia masih menerapkan yang mahal adalah yang terbaik. Sehingga akhirnya memilih diam dan hanya menikmati tempat wisatanya sendiri. Hal itu merupakan salah satu faktor penghambat berkembangnya informasi tempat-tempat wisata Indonesia yang belum banyak dikenal.

Lain dari itu, masyarakat lokal sendiri kurang memanfaatkan diri mendukung wisata lokal yang ada di sekitarnya. Untuk menyasar turis asing modal pertama yang wajib dimiliki adalah kemampuan berbahasa.

Lagi-lagi Bali menjadi contoh, di Bali mulai dari anak-anak hingga orang tua memang dibiasakan minimal 3 bahasa, yakni Bahasa Bali, Indonesia, dan Inggris. Walaupun di sana memang banyak turis asing sehingga dalam praktik kesehariannya akan jauh lebih mudah.

Tapi rasanya untuk lokasi lain, tak perlu menunggu banyak turis asing dulu untuk mau belajar Bahasa Inggris. Sejak di sekolah dasar, kita sudah belajar Bahasa inggris, supaya naik level ada sejumlah Lembaga Bahasa yang tersedia, mau lebih mudah dan murah bisa belajar dari internet.

Kurangnya jaminan keamanan untuk turis asing

Fenomena catcalling saat ini cukup naik daun. Catcalling adalah pelecehan seksual. Pelaku melakukan catcalling kepada korban dengan menyerang atribut seksual yang dimilikinya. Contoh seperti siulan, kedipan mata, atau pujian pada salah satu anggota tubuh (biasanya terjadi pada perempuan).

Hal ini pernah viral terjadi di area wisata Gili Trawangan. Jika pada sesama warga Indonesia saja bisa terjadi apalagi pada turis asing yang biasanya dalam berpakaian bisa dikatakan lebih berani dan sudah terjadi di Jakarta, pelaku adalah seorang sopir taksi dan korbannya adalah seorang bule Rusia. Imbasnya adalah pemecatan pada sang sopir.

Belum lagi ada Masyarakat lokal yang nakal di area wisata. Seperti meminta dana tambahan di luar HTM atau menaikkan harga yang jauh di atas batas normal karena memanfaatkan situasi.

Apakah terbayangkan pelaku bagaimana dampaknya jika hal tersebut menjadi viral di negara korban?

Minimnya gelaran event dalam menonjolkan suatu tempat wisata

Keindahan alam dan kebudayaan yang beragam menjadi salah satu faktor penting yang dimiliki Indonesia. Saat ini pemerintah hanya terfokus pada Pembangunan dan perbaikan di sejumlah tempat wisata. Lantas apakah itu saja dianggap cukup menarik?

Dari kacamata saya, digelarnya sebuah kegiatan entah dalam bentuk festival atau perayaan di suatu tempat akan lebih menarik pengunjung untuk datang. Apalagi dalam acara tersebut terdapat pesan-pesan khusus seperti memperkenalkan kebudayaan atau lokasi wisata tempat digelarnya acara.

Jika biasanya gelaran event dilakuakn setahun sekali, mungkin bisa dibuat setahun 2-3 kali. Cari lokasi-lokasi wisata yang masih jarang dikunjungi, berdayakan masyarakat sekitar untuk ikut terlibat dalam acara tersebut.

Lagi dan lagi, manfaatkan the power of social media untuk menyasar pengunjung yang lebih luas.


Koleksi pribadi / Pantai Watu Dodol Banyuwangi

Ajak kerjasama blogger ataupun vlogger untuk memasarkan sebuah lokasi wisata

Tak bisa dipungkiri, keberadaan blogger dan vlogger saat ini cukup penting dalam memasarkan sebuah bisnis. Review dari mereka adalah hal yang saat ini cukup dicari alasannya, mereka bisa menuturkan penilaian dengan teknik yang unik. Blogger bisa menguraikan dengan kalimat-kalimat yang enak dibaca, sementara vlogger bisa memaparkan pengalamannya melalui video-video estetik.

Tidak semua blogger dan vlogger memasang tarif yang tinggi. Temukan blogger dan vlogger yang punya Niche yang suka travelling. Karena ajakan kerjasama ini juga sekaligus menjadi portfolio pribadinya. Sehingga ia tak kebingungan dalam me-review tempat wisata.

Faktor-faktor di atas merupakan opini saya pribadi sebagai orang yang pernah kesulitan menemukan informasi tempat wisata yang seharusnya bisa ikut-ikutan viral seperti yang lainnya yang sepertinya itu-itu saja.

Sepertinya ini saatnya pemerintah menggandeng masyarakat dan mencari jalan keluar lain daripada sekadar menggratiskan visa kunjungan. 

Salam

Merasakan Air Sumur 3 Rasa di Masjid Al-Alam Marunda






Assalamu'alaikum, 

Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk mayoritas beragama Islam. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan masjid-masjid di berbagai wilayah yang sudah dibangun ratusan tahun lamanya.

Walau bentuk masjid jaman dulu yang terkesan sederhana, namun ada nilai keunggulannya yakni pada sejarah yang melatarbelakanginya.

Kali ini, saya dapat kesempatan untuk menjejakkan kaki di salah satu masjid tertua di Jakarta yakni, Masjid Al-Alam Marunda.

Masjid ini berlokasi di Jalan Marunda RT.09 / RW.01, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara dan cukup dekat dengan Rumah Si Pitung.

Bentuk bangunan Al-Alam terdiri 4 unsur kebudayan, yaitu Betawi, Cina, Jawa dan Eropa.

Koleksi pribadi

Koleksi pribadi

Koleksi pribadiAtap bermodel joglo mewakili kebudayaan Jawa, sementara dalam ungkapan Betawi model ini disebut sebagai sisir pisang dan dalam budaya Cina disebut lengkung naga. Sementara unsur budaya Eropa nampak pada tiang-tiang pilar penyangganya yang kokoh.

Sementara untuk ornamen jendela dan pintu mengandung unsur budaya Betawi. Oleh karena itu pula masjid ini disebut dengan masjid 4 budaya.

Masjid Al-Alam dikatakan merupakan salah satu tempat bersembunyi sosok Jawara Betawi Si Pitung dari kejaran para tentara Belanda kala itu. Sehubunggan dengan sejarah tersebut maka bangunan ini juga masuk menjadi bagian dari Cagar Budaya Museum Kebahaharian Jakarta.

Sejarah Masjid Al-Alam

Masuk ke area masjid, kami disambut sebuah gapura bertuliskan huruf Arab yang melafalkan dua kalimat syahadat dan huruf latin bertuliskan Masjid Al-Alam Marunda.

Bangunan inti masjid tidak terlalu besar, hanya berukuran sekitar 12x12 meter persegi dengan daya tampung untuk 150 orang jamaah. Seiring tahun, ditambahkan sebuah bangunan sebagai tempat khusus sholat wanita yang berukuran lebih kecil.

Sama halnya dengan keberadaan sosok Si Pitung, tak ada yang benar-benar bisa memastikan kapan masjid ini dibangun.

Sore lalu kami bertemu dengan Bapak Kusnadi sebagai pengurus Masjid Al-Alam, beliau menjelaskan sejarah pembangunan masjid ini berdasarkan kisah-kisah para orang tua yang hidup di tanah Marunda.

Koleksi pribadi // Pak Kusnadi Pengurus Masjid Al AlamMenurutnya, ada dua versi pembangunan masjid ini. 

Versi pertama, masjid ini dibangun oleh pasukan Mataram yang datang ke Marunda. Pasukan tersebut dipimpin oleh Sultan Agung.

Awalnya bangunan ini diperuntukkan untuk tempat persinggahan pasukan Mataram. Marunda sendiri singkatan dari Markas Penundaan. Karena tempat ini merupakan markas yang dipakai untuk mengatur taktik perang dan tempat peristirahatan para pasukan.

Namun kemudian dialihfungsikan menjadi masjid yang kemudian diberi nama Al-Auliya atau Wali. Hal ini dikarenakan masjid ini dibangun oleh pasukan mataram pimpinan Sultan Agung yang dianggap sebagai wali oleh para ulama karena kontribusinya dalam penyebaran agama Islam. Setelah bangunan ini disahkan oleh gubernur Ali Sadikin pada tahun 1972, namanya kemudian diubah menjadi Al-Alam.

Versi kedua, Masjid ini dibangun oleh pasukan Fatahillah pada abad ke-16.

Proses pembangunannya pun dikatakan ghaib, karena hanya memakan waktu satu hari saja.

Makam-makam di Masjid Al-Alam

Koleksi pribadi // Petilasan Habib Abdul Halim bin Hayyi Yahya

Koleksi pribadi

Ada dua ulama yang terlibat dalam Pembangunan masjid ini, yakni Syeikh Nurul Ahmad Nur Muhammad dan Habib Abdul Halim bin Hayyi Yahya. Untuk mengenang sosok ulama Habib Abdul Halim bin Hayyi Yahya tersebut dibangunlah sebuah bangunan tambahan berbentuk makam. Namun, itu bukan merupakan makam asli sang habib, melainkan hanya sebagai petilasan. Sementara makam asli Habib Abdul Halim terletak di Baqi, Madinnah.

Petilasan adalah istilah yang diambil dari bahasa Jawa (kata dasar "telas" atau bekas) yang menunjuk pada suatu tempat yang pernah disinggahi atau didiami oleh seseorang yang penting. (sumber : Wikipedia)

Selain itu terdapat pemakaman warga di belakang masjid yang berdampingan dengan petilasan. Saat saya menjelajah pelataran makam saya menghirup aroma bunga yang sangat wangi.

Adapula makam lain di bagian belakang masjid yakni makam KH. Jami'in Bin Abdullah. Makam tersebut dianggap sebagai makam keramat.

Hal ini bermula saat kejadian meletusnya gunung Krakatau pada Agustus 1883 di Hindia Belanda. Hal itu memicu munculnya Tsunami di area Marunda. Saat itu KH. Jami'in Bin Abdullah mengajak seluruh umat Islam di Marunda untuk melakukan doa bersama, dan wallahu'alam doa-doa tersebut dikabulkan dan masyarakat Marunda terselamatkan.

Sumur 3 rasa

Koleksi pribadi // sumur 3 rasaHal yang menjadi unik dalam masjid Al Alam ini adalah adanya sebuah sumur 3 rasa. Di mana air yang berasal dari sumur tersebut memiliki rasa asin, manis dan tawar.

Namun dari beberapa sumber menyatakan bahwa itu hanya sugesti dari sejumlah orang. Air dalam sumur tersebut sama halnya seperti sumur-sumur yang lain.

Menurut Pak Kusnadi, rasa air sumur dipengaruhi perasaan masing-masing orang. Jika yang mencicipi airnya dalam keadaan hati yang tidak tenang, maka rasa air pun menjadi kurang enak, namun jika perasaan hati sedang baik-baik saja maka rasa airnya menjadi tawar/enak.

Saya pribadi sempat merasakan rasa air dalam sumur tersebut, dan rasanya memang sedikit asin. Apakah hati saya sedang tidak enak?


Wallahu'alam.


Memang, sudah sejak lama, wilayah Marunda mengalami krisis air bersih. Hal ini disebabkan oleh  Intrusi air laut yaitu proses menyusupnya air laut ke dalam pori-pori batuan dan mencemari air tanah yang terkandung di dalamnya.

Pemerintah setempat memang melarang warga untuk mengambil air tanah, satu-satunya jalan mereka harus melalui Perusahaan Air Minum (PAM).

Menyiasati itu, warga memilih menimba air dari sumur Masjid Al-Alam ini sebagai satu-satunya sumber air yang masih bisa dikatakan layak konsumsi.

Selain sebagai destinasi wisata di Marunda, saat ini Masjid Al-Alam masih terus aktif mengadakan kegiatan keagamaan untuk warga sekitar seperti pengajian dan acara-acara tahunan.

Jelajah Rumah Si Pitung









Apa yang terbersit di kepala mana kala mendapatkan pertanyaan "Siapa nama jawara asal Betawi?" Tak bisa dipungkiri, sosok Pitung adalah salah satu jawara atau pendekar yang namanya sangat lekat dengan kebudayaan Betawi hingga saat ini.

Beberapa film yang menceritakan kisah sang legenda ini dirilis dalam beberapa judul diantaranya, Si Pitoeng (1931), Si Pitung (1970), Banteng Betawi (1971), Si Pitung Beraksi Kembali (1976).

Untuk saya pribadi, mengenal keberadaan sosok Pitung dimulai dari menonton film berjudul Si Pitung yang diperankan oleh mendiang Dicky Zulkarnain yang pertama kali dirilis pada tahun 1970.

Dalam film tersebut digambarkan sosok Pitung adalah sosok yang berjasa bagi masyarakat Betawi. Dengan ilmu bela diri yang didapatkannya saat berguru pada Haji Naipin, Pitung bersama sahabatnya Dji'i berhasil merebut kembali asset masyarakat pribumi yang sempat dirampok oleh penjajah.

Namun, sejumlah orang masih mempertanyakan apakah sosok Pitung ini benar-benar ada, atau sekadar folklore saja? Mengingat tak banyak (bahkan hampir tak ada) barang-barang peninggalan bahkan foto sebenarnya dari sosoknya.


Yuk, ikut jalan-jalan menilik jejak-jejak Pitung di tanah Marunda.


Koleksi Pribadi


Bertepatan dengan perayaan Hari Ibu, Jumat, 22 Desember 2023 Komunitas Travelling Kompasiana (KOTeKa) mengadakan trip ke-15. Event bertajuk "Tur ke Rumah Si Pitung, Yuk!" ini bekerjasama dengan sosok Kompasianer Ira Lathief yang tengah merayakan 15 tahun masa berkarirnya sebagai tour guide.

Pukul 1 siang, kami sudah berkumpul di pelataran Rumah Si Pitung. Lokasinya terletak di Jalan Kampung Marunda Pulo 2, RT 2 RW 7 Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Rumah Si Pitung ini merupakan salah satu lokasi wisata di bawah naungan Museum Kebaharian Jakarta.

Sebelum menjelajah Rumah Si Pitung, para peserta tur diberikan dulu sejumlah informasi mengenai sejarah tempat ini oleh Bang Tama, tour guide asli dari Rumah Si Pitung.  



Koleksi pribadi // Mbak Ira Lathief dan Bang Tama


Sejarah dimulai dari sini.

 

Sejarah Rumah Si Pitung

Koleksi Pribadi


Koleksi Komunitas KOTeKa


Rumah si Pitung (RSP) berdiri di lahan seluas 3000 meter persegi. Melihat dari bentuknya, rumah ini jauh berbeda dengan rumah-rumah umum milik masyarakat Betawi yakni Rumah Joglo. RSP menampilkan sebuah bangunan dengan bentuk rumah panggung khas suku Bugis -- Makassar.

Mulanya, lahan dan bangunan yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke 20 ini adalah milik dari Haji Safiuddin, seorang saudagar yang berasal dari Sulawesi Selatan. Hal itu tentunya selaras dengan bentuk bangunan RSP ini. Ada 2 versi tentang rumah Haji Safiuddin ini. Versi pertama, rumah ini merupakan salah satu korban perampokan oleh Si Pitung yang kemudian harta rampokkan itu dibagikan kepada rakyat miskin yang ada di sekitar Marunda.

Versi kedua, Haji Safiuddin merupakan sahabat dari Si Pitung yang membiarkan rumahnya menjadi tempat jawara itu sembunyi dari para penjajah yang mengejarnya dan peristiwa perampokan tersebut adalah sebuah kamuflase untuk mengalihkan kecurigaan penjajah.


Kelahiran hingga Kematian Si Pitung

Kembali pada film Si Pitung yang dibintangi oleh mendiang Dicky Zulkarnaen, infonya film tersebut bukan sebuah film dokumenter melainkan film yang berdasarkan imajinasi sang sutradaranya, Nawi Ismail. Namun faktanya, masyarakat sudah terlanjur 'jatuh cinta' dengan hal-hal yang dimunculkan dalam film tersebut.

Pada film-nya, sosok Si Pitung adalah seorang pria gagah perkasa yang memiliki ilmu bela diri. Namun dari beberapa sumber mengatakan Pitung adalah singkatan dari frasa Jawa "pituan pitulung" yang berarti "tujuh sekawan tolong-menolong". Sehingga bisa diartikan bahwa Pitung ini bukanlah nama orang melainkan sebutan untuk sebuah kelompok.

Informasi dari Bang Tama, salah satu anggota Pitung yang diketahui nama aslinya ialah Raden Mas Ahmad Nitikusumah. Diperkirakan Pitung lahir di Rawa Belong pada tahun 1866. Ia dikatakan memiliki ayah berdarah Banten bernama Piung dan ibu berdarah Betawi bernama Supinah.

Sejak kecil Pitung mengenyam pendidikan mengaji dan bela diri di sebuah Madrasah milik Haji Naipih. Salah satu ilmu bela diri yang dipelajari adalah ajian Rawa Rontek yakni sebuah ilmu yang mampu membuat si pemiliknya akan hidup abadi. Satu-satunya cara untuk mengalahkan ajian ini adalah dengan menggantung tubuh pemiliknya sampai benar-benar mati. Karena diyakini siapapun yang memiliki ilmu yang berasal dari jaman Jawa Kuno ini tak boleh dikubur dalam tanah karena hal itu justru akan membuatnya hidup kembali.

Mulanya ilmu bela diri yang dimilikinya digunakan hanya untuk menjaga diri, namun karena sebuah kejadian pencurian hewan ternak milik ayahnya, Pitung akhirnya menggunakan kemampuannya untuk merebut kembali apa yang menjadi miliknya. Tak sampai di situ, keinginan Pitung akhirnya berkembang, tak hanya mengambil hak keluarganya, ia juga merampok para tuan tanah yang sudah merenggut harta masyarakat pribumi di Hindia Belanda. Oleh karena itu, Pitung dikenal sebagai perampok oleh pihak kompeni dan dianggap pejuang oleh pribumi.

Berdasarkan cerita Bang Tama dan berbagai sumber yang saya baca, saat itu berbagai cara dilakukan untuk menangkap Pitung. Salah satunya dengan mencari tahu kelemahannya. Terdapat banyak versi juga mengenai ini. Ada yang mengatakan bahwa sosok Haji Naipih (gurunya) yang justru membongkar rahasia kelemahan Pitung setelah mendapat tekanan dari kompeni. Ada pula versi lain yang menyatakan bahwa sahabat-sahabat Pitung sendiri yang membongkar rahasia tersebut.

Namun dari berbagai versi tersebut merujuk pada sebuah benang merah bahwa Pitung dikabarkan tewas karena peluru emas milik Adolf Wilhelm Verbond Hinne, seorang polisi hutan yang memiliki ayah berdarah Prancis dan ibu berdarah pribumi.

Sejak jasadnya dikubur, makam Pitung dijaga ketat para tentara kompeni, hal ini berhubungan dengan ajian Rawa Rontek yang dimilikinya. Mereka khawatir jasad Pitung akan kembali bangkit.

Ada sejumlah orang yang meyakini keberadaan makam Pitung terletak di daerah Kebon Jeruk Jakarta Barat. Yang kemudian jalan tersebut diberi nama Jalan Bang Pitung. Di lokasi tersebut terdapat sebuah makam yang belum bisa diyakini keabsahannya bahkan oleh pemerintah bahwa memang terdapat jasad Pitung di dalamnya. Namun, jika rekan-rekan ingin ke sana, lokasinya berada di Jalan Bang Pitung No.7, RT.1/RW.1, Kelurahan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.


Peninggalan Sang Jawara di Rumah Si Pitung

Di lahan ini terdapat 3 bangunan yakni, Rumah Si Pitung, Musholla, dan ruang serba guna.

Jika teman-teman berharap akan menemukan benda-benda peninggalan Pitung di sini, mungkin akan merasa kecewa. Dinyatakan memang tidak ada peninggalan asli milik Pitung yang disimpan di sini.

Lahan dan bangunan ini diakuisisi pemerintah saat masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1993 dikarenakan sejarah persembunyian Si Pitung saja. Sebelum, lahan ini masih ditinggali oleh menantu dari pemilik lamanya yakni Haji Safiuddin.

Bangunan ini dibeli pemerintah seharga 700juta rupiah.

Seorang budayawan Betawi Alm Ridwan Saidi adalah sosok yang peduli pada keberadaan Rumah Si Pitung ini. Beliau mengatakan bahwa jika tempat ini ingin dijadikan cagar budaya maka sebaiknya ada koleksi yang disimpan di dalamnya. Mengingat tak ada satu pun peninggalan Si Pitung yang tersisa maka beliau berinisiatif menghibahkan sejumlah koleksinya untuk disimpan di sana.

Barang-barang milik Ridwan Saidi diletakkan di bangunan Rumah Si Pitung yakni seperti lampu, meja dan kursi makan, juga ada koper dan rebana.


Koleksi Pribadi


Koleksi Pribadi


Koleksi Pribadi

Koleksi Pribadi / barang koleksi Ridwan Saidi


Koleksi Pribadi

Selain itu, ada pula ranjang dan meja rias dalam sebuah kamar tidur yang hanya boleh dilihat dari luar. Namun tak ada penjelasan tentang benda-benda tersebut.

Koleksi Pribadi



Jadi, menurut teman-teman Si Pitung ini tokoh fiksi atau non fiksi? 


Menikmati Kue Khas Betawi dan Mengamini Segala Maknanya

Lepas dari melihat koleksi di Rumah Si Pitung, kami pun diarahkan menuju ruang serbaguna. Di sana kami diberikan sajian kue-kue khas Betawi. Masing-masing kue memiliki maknanya sendiri.


Koleksi Pribadi

Lemper ayam, teksturnya yang lengket dimaknai sebagai harapan sebuah hubungan pertemanan dan persaudaraan yang menyatu.

Kue Pepe, makanan satu ini terkenal dari Kepulauan Seribu, kue ini digadang-gadang adalah kue pertama yang muncul di lingkungan masyarakat Betawi. Kue berbentuk lapisan-lapisan berwarna warni yang digabungkan ini menyimbolkan keeratan hubungan dalam segala lapisan masyarakat, sehingga tidak ada perbedaan satu dan yang lainnya.

Kue Talam yang berbahan dasar tepung beras. Kue yang dalam sejarahnya merupakan pengaruh dari adat Tionghoa dan Belanda ini mengisyaratkan kekerabatan. Dulunya kue ini hanya dinikmati oleh para bangsawan. Saat ini kue Talam bisa kita temukan di tempat-tempat yang menjual jajanan tradisional.

Tak ketinggalan, ada Roti Buaya yang biasanya disajikan saat ada acara pernikahan adat Betawi yang bermakna kesetian dan kelanggengan hubungan suami istri. Selain itu roti buaya juga dimaknai sebagai lambang kesabaran, kemapanan ekonomi, dan harapan.

Bukan cuma sebagai pemandangan, kami diberi kesempatan juga untuk "mencabik-cabik" roti buaya dan menikmatinya.

Koleksi Pribadi // Roti Buaya


Sambil menikmati kudapan yang disediakan, Ira Lathief dan sejumlah rekan-rekan tour guide-nya juga berbagi cerita pada peserta bagaimana pengalaman mereka selama menjadi Pramuwisata. Mulai dari awal mereka memiliki keinginan untuk terjun ke bidang tersebut sampai dengan pengalaman mendapatkan client yang memiliki keinginan mendatangi tempat-tempat anti mainstream.

Koleksi Pribadi


Kesan dan Pesan

Sejujurnya, saya pribadi berharap lokasi ini bisa memiliki lebih banyak koleksi yang bisa dinikmati pengunjung. Jika memang tak ada barang-barang sejarah peninggalan Pitung mungkin bisa ditambahkan fasilitas menonton film-film layar lebar yang bertemakan tokoh legenda tersebut agar para pengunjung bisa merasakan aura Sang Jawara. Atau dibuatkan event-event bertemakan budaya Betawi secara berkala untuk meningkatkan jumlah pengunjungnya.


Untuk rekan yang ingin berkunjung ke sana, aksesnya cukup mudah.

Bisa dengan kendaraan pribadi atau umum. Untuk kendaraan umum bisa menggunakan commuterline dengan tujuan stasiun Tanjung Priok dan dilanjutkan dengan jaklingko. Saya pribadi menggunakan motor dari Bekasi kurang lebih 1 jam tanpa macet.

Waktu kunjungan di hari Selasa - Minggu pukul  08.00 s/d 17.00 (Senin libur)

HTM Dewasa 5.000, Mahasiswa 3.000 dan pelajar 2.000.

Murah, kan?

Segera ajak teman dan keluarga untuk menjejakkan kaki di sana, yuk!


Sebagai penutup, saya ucapkan rerima kasih untuk KOTeka dan Mbak Ira Lathief dan pihak Rumah Si Pitung yang sudah mengajak kami semua bisa menjejakkan kaki di lokasi saksi bisu keberadaan Si Pitung dalam versi yang lain.


Salam sayang