Sebuah blog yang berisikan tentang perjalanan wisata sejarah dan perjalanan kehidupan

Jumat, 15 Desember 2023

Miyako Nanoal Jalan Ninja Ibu Hemat Waktu Produksi Makanan Bermutu


 





Hi, Moms.

Perayaan Hari Ibu adalah sebuah momen di mana banyak pihak terutama keluarga memberikan apresiasi yang tinggi terhadap keberadaan sosok ibu di tengah mereka. 

Ibu adalah pencipta peradaban. Dari rahimnya terlahir anak-anak hebat yang membawa bakatnya masing-masing. Ibu menjadi garda terdepan dalam keluarga dalam membentuk pola pikir serta ilmu agama. 

Di sekolah-sekolah, perayaan Hari Ibu bahkan dibuatkan momen spesial, para guru biasanya akan mengajak murid untuk membuat hadiah sederhana atau sekadar surat cinta untuk ibu mereka di rumah.

Hal itu menunjukkan bahwa pihak sekolah juga menjunjung keberadaan para ibu untuk mendukung pihak sekolah dalam proses pendidikan anak-anak mereka di rumah.

Tahun 2023 ini merupakan momen perayaan Hari Ibu kedua untuk sosok ibu muda, Nikita Willy. Setelah melahirkan anak pertamanya, Issa Xander Djokosoetono pada April 2022 lalu, perempuan multi talenta ini memutuskan untuk hiatus dari aktivitas di industri hiburan dan fokus pada proses tumbuh kembang sang anak.

Hal ini tentunya bukan sesuatu yang mudah bagi seorang Nikita Willy yang pastinya sudah mendapat banyak tawaran pekerjaan pasca melahirkan.

Namun, hal itu seakan bukan sebuah masalah besar untuknya, dirinya benar-benar menomorsatukan keluarga di atas segalanya. Karena memang mengikuti perkembangan anak adalah hal yang tak bisa diulang, apalagi di masa-masa golden age ya, Mom.

Sebagai perempuan dan juga ibu, saya salut dengan pola berpikir seorang Nikita Willy, di usia yang terbilang masih muda, dirinya sudah bisa memilah mana yang menjadi skala prioritas dalam hidupnya.

Saya punya pengalaman yang sama dengan Nikita Willy, ketika anak pertama saya lepas dari masa golden age, saya memutuskan untuk kembali ke dunia kerja karena melihat biaya yang apa-apa serba di luar Fikri dan Nurul, eh, pikiran dan nalar, sebagai istri dan juga ibu rasanya ingin sekali ikut membantu untuk memenuhi segenap kebutuhan keluarga.

Walau begitu, setelah memutuskan juga untuk kembali bekerja saya punya komitmen pada suami untuk tidak meninggalkan pekerjaan sebagai istri dan ibu pada umumnya.

Apa boleh seyakin itu, Mom?

Boleh, dong!

Hal itu bisa terjadi jika ada support system di samping kita. Di sini, saya punya suami yang alhamdulillah mendukung keputusan saya. Kami pun berbagi tugas, hal itu memungkinkan, karena suami saya memiliki pekerjaan yang tidak wajib ke kantor alias bisa Work From Home (WFH).

Sebelum berangkat kerja, saya memastikan anak dan suami tetap merasa seakan saya ada di rumah, caranya dengan menyiapkan makanan yang bisa mereka nikmati selama saya tinggal bekerja.

Biasanya saya sudah punya stock makanan ungkep di kulkas seperti ayam, ikan, tahu dan tempe. Jadi suami bisa tinggal goreng saja kapanpun mereka mau makan. Ya, walau kadang mereka juga bosan makan masakan rumah, biasanya mereka akan beli makanan jadi entah di warung dekat rumah yang menjual masakan jadi atau bisa order online.

Namun, untuk anak kedua saya yang berkebutuhan khusus, treatment saya agak berbeda, makanan yang ia konsumsi harus dijauhkan dari kandungan minyak serta karbohidrat tinggi. Sehingga saya menyiapkan olahan makanan yang dikukus atau direbus.

Namun, yang paling penting dan harus ada dan sudah ready to eat adalah nasi. Ya, sebagai keluarga pengabdi nasi yang apa-apa harus pakai nasi, membuat saya mewajibkan diri untuk menyediakan nasi bagi keluarga.

Dulu saya senang memasak nasi menggunakan 2x proses yakni dengan mengukus lebih dulu baru menanak. Namun dengan kondisi menjadi ibu bekerja, saya harus mengubah pola tersebut dengan cara memasak instant yang tidak memakan banyak waktu.

Saya juga memastikan nasi tidak habis sampai saya pulang kerja, sehingga saya harus memasak dalam jumlah cukup untuk kebutuhan kami berempat hanya dengan 1x masak saja.

Dan, rice cooker adalah jalan ninjaku. Bagi saya, penggunaan rice cooker sudah paling tepat untuk ibu bekerja yang mau semua serba sat-set.

Tak hanya mengutamakan kuantitas dan kecepatan proses memasak, kualitas nasi yang dihasilkan juga harus tetap nomor satu. Semua ibu pasti ingin menyediakan makanan yang dikonsumsi higienis dan sehat, kan?

Tapi, tidak mudah menemukan rice cooker yang bisa memenuhi semua kebutuhan saya. Cari yang murah tapi kualitasnya ya begitu deh hehehe, ada yang anti lengket tapi khawatir potensi Perfluorooctanoic acid  (PFOA) belum lagi nasi jadi cepat kering. Belum lagi kalau saat pulang kerja mau langsung makan, pas buka rice cooker eh ternyata nasinya basi. Pulang kerja sudah capek, jadi makin capek karena masalah ini.

Setelah sekian lama berjibaku dengan drama-drama per-rice cooker-an akhirnyaaaaaaaa….

Ternyata, oh ternyata, Miyako meluncurkan produk rice cooker yang sesuai dengan kebutuhan kami sekeluarga.

Apa itu, Mom? Sini merapat, saya kasih tahu.

Magic Warmer Plus Miyako Miyako MCM-586 BH adalah rice cooker multi fungsi. Alat canggih ini mempunyai 3 fungsi yang berbeda dalam 1 produk. 

Yakni :

Memasak nasi ✅ 

Mengukus masakan ✅

Menghangatkan masakan ✅






Selain itu, rice cooker Miyako seri ini memiliki kapasitas besar hingga 1.8 liter untuk memasak dan 5 liter untuk menghangatkan makanan, jadi nggak ada istilah masak 2x untuk kebutuhan makanan dalam satu hari.

Memiliki ketebalan 1.4 mm, serta dilapisi Double Coating pada permukaan dalam dan luar panci. Sehingga tampilan panci lebih mewah dan elegan

Nggak cuma itu saja, MCM-586 BH ini juga dilengkapi dengan panci berbahan nanoal yang anti lengketnya 10x lebih tahan lama, sehingga dipastikan Miyako Nanoal BEBAS PFOA.

Kenapa sih harus bebas PFOA? Sebahaya apa PFOA itu, Mom?

Mengutip dari situs sehatq.com sebuah situs yang berisikan informasi kesehatan di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), 

Perfluorooctanoic acid (PFOA) adalah salah satu bahan kimia buatan yang termasuk dalam kelas senyawa kimia perfluorinated compound (PFC). PFOA merupakan bagian dari proses pembuatan bahan teflon berbahaya.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa paparan tinggi pada PFOA berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan, di antaranya:

  • Kanker testis dan ginjal
  • Kerusakan hati
  • Penyakit tiroid
  • Kolitis ulseratif atau penyakit radang usus (inflammatory bowel disease atau IBD) yang menyebabkan peradangan dan luka (ulkus) di saluran pencernaan.
  • Perubahan pada kadar kolesterol
  • Perubahan pada tekanan darah selama masa kehamilan.

Paparan tinggi terhadap PFOA juga bisa menyebabkan masalah pada janin, bayi yang disusui, dan anak-anak. Potensi-potensi masalah yang bisa timbul meliputi berat badan lahir rendah (BBLR), pubertas dini, dan gangguan sistem kekebalan tubuh yang dapat meningkatkan risiko kesehatan lainnya.

Serem kan, Moms? 😰

Di tengah gempuran virus dari dalam dan luar negeri, kita sebagai ibu wajib menjaga kesehatan keluarga secara maksimal. Salah satunya dengan penggunaan alat masak yang aman.

Oh, hampir terlupa. Jangan khawatir jika di tengah proses pemakaian muncul kerusakan pada rice cooker Miyako ini. Untuk kerusakan elemen pemanas ada garansi 5 Tahun dan 1 tahun untuk Sparepart lainnya. No play-play, ya. 😍






Desain dan warna baby pink yang eye catching juga cakep banget buat dipandang kalau ditaruh di meja makan tanpa harus pakai cover rice cooker lagi.

Sejumlah keunggulan yang dimiliki MCM-586 BH juga membuat Nikita Willy Pakai Miyako. Perempuan yang memang punya hobi masak ini juga mengolah sendiri menu-menu MPASI sang anak dan kemunculan Miyako nanoal ini jelas sangat membantu.





Bisa dikatakan jika produk ini merupakan bentuk cinta Miyako pada ibu-ibu yang ingin mempersembahkan sajian sehat untuk keluarga. 

Jadi Magic Warmer Plus Miyako MCM-586 BH ini benar-benar idaman banget deh untuk ibu-ibu rumah tangga ataupun yang juga bekerja tapi tetap ingin memastikan kondisi perut keluarga dan kesehatan mereka tetap terjaga.

Jadi, kapan mau punya produk keren ini di meja makan keluarga, Moms?

Segera, yuk!

Jumat, 08 Desember 2023

Cerita Dibalik Proses Pemakaman dan Pembuatan Museum Soekarno di Blitar






Mendapatkan kesempatan dinas luar kota membuat jiwa "aji mumpung" saya begitu bergejolak.😂


Sambil mengajak teman-teman yang belum terbiasa tur ke lokasi wisata sejarah, momen ini juga saya sebagai salah satu cara untuk menambah minat mereka pada rasa ingin tahu tentang sejarah Indonesia.

Kota Blitar merupakan sebuah kota yang terletak di bagian Selatan provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 167 km sebelah barat daya Surabaya dan 80 km sebelah barat Malang. Penempatan lokasi makam Bung Karno yang berada di kota inilah yang membuat Blitar disebut sebagai Kota Proklamator. 


 Sebelum saya ajak menjelajahi Museum dan Makamnya, kita flash back dulu ke kisah pahit yang dialami Bung Karno sebelum akhirnya beliau wafat, ya.


Kilas Balik

Beberapa bulan pada awal tahun 1969, Bung Karno "diasingkan" ke Wisma Yaso. Wisma Yaso adalah rumah yang dibangun Bung Karno untuk istrinya, Ratna Sari Dewi. Yaso adalah nama mendiang adik dari Ratna Sari Dewi. Pemerintah memutuskan menahan Bung Karno di sana karena beliau harus mendapatkan interogasi terkait peristiwa G30/S serta menjalani serangkaian pemeriksaan intensif untuk penyembuhan sakit ginjal yang diidapnya saat itu.

Namun, dari beberapa sumber mengatakan bahwa sebenarnya Bung Karno tidak mendapatkan perawatan selayaknya. Obat-obatan yang diberikan pun jauh dari kata cukup. Jangankan teman, keluarganya pun tak mendapatkan ijin untuk menjenguknya. Mereka hanya boleh mengirimkan makanan yang kemudian dititipkan pada penjaga.

Radio Republik Indonesia menyiarkan kabar kematian Bung Karno pada 21 Juni 1970 sekitar pukul 07.00 WIB di RSPAD Gatot Soebroto - Jakarta Pusat.

Lokasi pemakaman pun sempat menjadi perdebatan beberapa pihak. Subagio Anam, mantan kepala Biro Penerangan Kementerian Koperasi, mengabarkan pada wartawan bahwa Bung Karno akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, namun hal tersebut mendapat penolakan dari beberapa pihak karena status Bung Karno yang masih dalam tahanan. 

Kemudian pemerintah pun membuat sebuah keputusan, Bung Karno akan disemayamkan di Wisma Yaso. Hal ini tentunya adalah keputusan yang tak disangka-sangka terutama oleh Fatmawati Soekarno sebagai Ibu Negara pertama RI. Beliau justru meminta mendiang suaminya lebih baik disemayamkan di rumah mereka di Jalan Sriwijaya - Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sayangnya, permintaan itu ditolak oleh pemerintah.

Jenderal Hoegeng Iman Santoso yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia mewakili keluarga besar Soekarno, melakukan perundingan dengan asisten pribadi Presiden Soeharto, yaitu Alamsyah Prawiranegara dan Tjokropranolo.

Jika mengikuti wasiat Bung Karno, beliau ingin dimakamkan di Bogor, namun hal itu pun mendapat penolakan dari pemerintah dengan alasan jarak ibukota dengan lokasi pemakaman terlalu dekat. Keputusan akhir pun didapat, Pak Soeharto menginstruksikan mendiang Proklamator RI itu dimakamkan di Blitar agar dekat dengan makam mendiang ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai.

Keputusan perihal pemakaman ini bahkan tertulis dalam KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 1970 TENTANG PENYELENGGARAAN UPACARA PEMAKAMAN KENEGARAAN SEBAGAI PENGHORMATAN NEGARA KEPADA ALMARHUM DR. IR. SOEKARNO SEBAGAI PROKLAMATOR KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA.

https://www.hukumonline.com/



https://www.hukumonline.com/

Museum Bung Karno

Museum dan Makam Bung Karno Dua berlokasi di Jl. Ir. Soekarno No.152, Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur. Museum diresmikan pada 3 Juli 2004 oleh salah satu putri Bung Karno, Megawati Soekarno Putri.

Saat itu saya berkunjung bersama teman-teman kantor. Dua diantaranya adalah warga lokal Blitar. Di pelataran parkir kami dengan mudah menemukan para penjual bunga tabur. Kalau tidak salah harga yang dibandrol lima ribu rupiah untuk satu plastik. Adapula penjaja aksesoris seperti gelang dan kalung buatan warga sekitar dengan harga kisaran 5.000 - 10.000.

Bangunan ini terletak di sisi selatan makamnya. Bangunan ini awalnya merupakan lahan yang dihibahkan oleh Pamoe Rahardjo, ajudan Bung Karno selama periode 1946-1948.

Dalam Museum ini terdapat barang-barang peninggalan Sang Proklamator. Seperti lukisan, foto-foto, uang dengan seri Bung karno yang diterbitkan pada 1964, juga barang-barang pribadinya.

Ada sebuah lukisan yang fenomenal, yakni lukisan detak jantung. Jika kita memperhatikan dari samping, terlihat pada bagian dada nampak seakan berdetak seperti dada manusia yang masih hidup. Tapi, lukisan ini nggak boleh disentuh, ya.


Berikut foto-foto yang bisa saya bagikan.



Koleksi Pribadi / Kemeja


Koleksi Pribadi / Parfum

Koleksi Pribadi / Pulpen Parker



Koleksi Pribadi / Peci dan kacama hitam ciri khas Bung Karno

Koleksi Pribadi / Lukisan Detak Jantung

Koleksi Pribadi / Kemeja safari

Koleksi Pribadi / Lukisan Bung Karno sungkem pada ibundanya

Koleksi pribadi

Koleksi Pribadi / Foto kedekatan Bung Karno bersama keluarga

Koleksi Pribadi / Bung Karno bersama ibu Fatmawati (istri pertama)

Koleksi Pribadi


Koleksi Pribadi

Koleksi Pribadi

Koleksi Pribadi






Selain museum, kita juga bisa mengunjungi perpustakaannya. Banyak buku-buku disimpan dalam perpustakaan tersebut. Mulai dari buku-buku biografi Bung Karno, buku-buku karya Bung Karno sendiri, buku-buku referensi, dan koleksi umum. Ada pula koleksi audio visual berupa CD dan VCD. Terdapat 1.120 eksemplar buku dan sejumlah lukisan yang dihibahkan oleh almarhum Pamoe Rahardjo yang diwakili oleh anaknya pada Perpustakaan Nasional RI (PNRI), yang kemudian dialokasikan ke Perpustakaan Bung Karno di Blitar.



Makam Bung Karno

Lokasi ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 21 Juni 1979.  Untuk kunjungan makam, ada tarif 2.000/orang. Di depan dua gapura besar tiket akan diperiksa. Kita juga bisa membeli bunga tabur dari penjual yang berkeliling di area luar makam.

Infonya, pada hari biasa pengunjung kurang lebih mencapai angka seribuan orang perhari. Kebetulan saya datang tepat saat perayaan 1 suro. Namun, mungkin karena masih sore dan orang-orang sibuk menggelar acara di rumah masing-masing sehingga bisa dikatakan hari itu pengunjung tidak terlalu membludak. Kami masih bisa jalan santai dan bergantian duduk dan mengirimkan doa di depan makam Bung Karno dengan leluasa.

Lokasi makam Bung karno ada dalam sebuah pendopo, di mana selain makam Sang Proklamator, ada pula 2 makam di sisi kanan dan kirinya. Yakni makam kedua orangtuanya. Ida Ayu Nyoman Rai (wafat 12 September 1958) dan Raden Soekemi Sosrodihardjo (wafat 18 Mei 1945).


Koleksi Pribadi / Dinding sepanjang jalan dari museum menuju ke makam



Koleksi Pribadi / Saya dan para peziarah

Koleksi Pribadi / Makam Bung Karno

Koleksi Pribadi

Koleksi Pribadi

.


Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.- Soekarno 10 November 1961



*


Untuk teman-teman yang ingin berkunjung, lokasi ini buka setiap hari, pukul 07.00 WIB - 17.00 WIB. Tarifnya murah, aksesnya pun mudah. Banyak penjual aksesoris dan oleh-oleh khas mBlitar.

Warganya ramah dan hangat. Dijamin kalian betah berlama-lama mampir ke sini.

Sampai di sini dulu, jalan-jalannya. 

Salam sayang,

Ajeng Leodita.



Minggu, 03 Desember 2023

Mengenal Teknik Memasak dan Memotong yang Diajarkan di Sekolah Perhotelan Taraf Nasional


 

sumber foto : kemenparekraf

Sedang ramai di media sosial tentang kontes masak yang pada akhirnya membandingkan peserta yang berasal dari lulusan sekolah tata boga dengan yang lulusan sekolah kuliner bertaraf internasional.

Di sini saya tidak mau ikut-ikut membandingkan, hanya ingin berbagi ilmu saat mengenyam pendidikan selama 3 tahun di sekolah jurusan pariwisata dengan konsentrasi pada Food and Beverage.

Tak jarang tim pengajar yang direkrut adalah mantan chef hotel atau restoran bintang lima, sehingga mereka tak hanya mengajar secara text book, melainkan mengaplikasikan pengalaman mereka di industri kuliner skala internasional.

Seperti di almamater saya dulu, tim pengajar untuk ilmu profesi mayoritas adalah mantan karyawan Hotel Indonesia (sekarang Grand Indonesia), mulai dari pengajar mata pelajaran food froduct, bar, maupun housekeeping.

Sepemahaman saya, yang menjadi landasan pelajaran di sekolah tata boga adalah ilmu yang dipergunakan dengan standar internasional. Hal itu diharapkan agar lulusan sekolah tata boga asal Indonesia bisa ikut bersaing dengan lulusan dari mancanegara.

Tak hanya ilmu masak, pelajar yang sedang mengenyam pendidikan di sekolah pariwisata (F&B) juga diperkenalkan dengan program Table Manners.

Table manners yang diasakan pihak sekolah bertujuan untuk memberikan pelatihan bagi para siswa untuk memahami aturan makan secara formal bertaraf internasional.

Table manner sendiri merupakan tata cara dan sikap yang di gunakan dalam jamuan makan resmi, meliputi etika makan di meja makan, cara duduk, cara menggunakan peralatan makan serta cara berinteraksi dengan sesama tamu di meja makan.

Di sini pula kami secara langsung melihat praktik penyajian makanan berdasarkan susunan dalam konsep table d’hote menu atau set menu. Yakni mulai dari appetizer (makanan pembuka), soup (sup), main course (makanan inti/utama), sampai dengan dessert (makanan penutup).

Ini adalah program dari pihak sekolah yang bekerjasama dengan hotel. Apakah berbayar? Tentu. Para siswa dikenakan sejumlah biaya untuk program tersebut.

Oleh karena itu, sejak dulu, sekolah pariwisata (yang swasta) uang SPP-nya bisa dikatakan lebih tinggi dari jurusan SMK yang lain.

 

Kembali ke inti yang ingin saya bahas tentang ilmu masak yang saya dapatkan di sekolah, akan saya uraikan satu per satu.

Terdapat 12  teknik memasak yang pernah saya pelajari, yaitu :

Teknik boiling (merebus), teknik ini adalah yang paling umum dijumpai di rumah. Merebus dilakukan saat air yang sudah ditampung dalam wadah (panci) kemudian dipanaskan sampai dengan suhu 100 derajat celcius. Yang perlu diperhatikan dalam teknik ini adalah cara pengolahan agar warna makanan tidak rusak, yakni dengan memperhatikan lama proses merebus itu sendiri. 

Teknik grilling (membakar), teknik ini sedang hits saat ini. Sering kali dijumpai di beberapa tempat kuliner yang menyuguhkan menu shabu and grill. Memanggang adalah proses mematangkan makanan di atas api langsung. Contoh makanan yang menggunakan teknik memasak seperti ini yakni, sate, ayam bakar, ikan bakar, seafood, dan masih banyak lagi.

Teknik Steaming (mengukus), teknik semacam ini biasanya dianjurkan oleh beberapa ahli gizi. Alasannya, karena teknik ini memungkinkan bahan makanan tidak kehilangan kandungan vitaminnya.

Biasanya makanan yang diolah melalui proses ini yakni menu-menu chinnese food.

Teknik Roasting (memanggang), hampir mirip dengan grilling, roasting juga mematangkan makanan dengan cara dibakar. Pembedanya adalah teknik roasting menggunakan kadar panas yang lebih rendah. Biasanya untuk melakukan proses ini, crew dapur akan menggunakan oven. Kalkun panggang adalah salah satu masakan yang dalam proses pematangannya menggunakan metode ini.

Teknik Baking (memanggang), metode ini mirip dengan roasting. Hanya saja teknik baking dikhususkan untuk produk kue dan roti. Di antara teknik membakar/memanggang yang ada, baking adalah yang memiliki suhu paling rendah. Teknik ini biasa digunakan untuk membuat kue-kue kering, croissant, dan lain sebagainya.

Teknik Poaching (merebus), pola ini mirip dengan teknik boiling, yang membedakan adalah cairan yang digunakan untuk merebus tidak sebanyak boiling yang harus menggenang di atas bahan makanan. Untuk poaching bahan cair yang digunakan sebatas menutupi bahan pangan dengan api di bawah titik didih 92°-96°C.

Teknik Sauteing (menumis), dari sejumlah Teknik masak yang saya pelajari, ini adalah Teknik terfavorit. Menumis adalah memasak makanan menggunakan sedikit minyak dan biasanya menggunakan pan.

Teknik Blanching (merebus dalam waktu singkat), metode ini adalah teknik memasak makanan di dalam air dalam waktu yang singkat.

Teknik Simmering (merebus di bawah titik didih), metode ini mirip dengan boiling dan poaching. Yang menjadi pembedanya adalah suhunya dibiarkan tetap stabil di kisaran 82 hingga 90 derajat celcius. Juru masak hotel menggunakan teknik ini ketika ingin membuat kaldu dengan menggunakan stock pot. Untuk ibu-ibu di rumah biasanya Teknik simmering dipakai saat membuat kuah bakso atau rawon.

Stir frying (menggoreng dengan minyak sedang) teknik ini mirip dengan sauteing, hanya saja minyak yang digunakan relatif lebih banyak.

Teknik Pan frying serupa dengan sauteing, hanya bahan makanan yang dipotong berukuran lebih besar. Salah satu menu yang mengunakan metode ini adalah beefsteak.

Tak hanya Teknik memasak, jurusan F&B di sekolah pariwisata juga diajari ilmu memotong. Jangan salah, potongan yang biasa dilakukan di rumah itu punya sebutannya masing-masing jika sudah masuk indurstri kuliner.

 

Julienne : Jenis potongan Julienne atau batang korek api. Pernah lihat salad punya hoka-hoka Bento? Mereka menggunakan teknik Julienne untuk wortel dan lobak.

Macedoine/Dice : Jenis potongan ini seperti kubus kecil. Biasanya para chef menggunakan potongan ini untuk menu-menu sup. Teknik ini bisa digunakan untuk memotong sayuran dan juga daging.

Chopped, ini merupakan Teknik memotong cincang. Bahan makanan yang dicincang bisa dalam bentuk sayuran dan daging. Tak hanya itu, bumbu seperti bawang putih dan merah juga kerap menggunakan teknik ini. Daging yang akan dibuat menjadi bahan burger juga menggunakan teknik ini.

Minced, mirip dengan chopped namun cincangan yang dihasilkan lebih halus lagi. Cara ini bisa mengganti proses mengulek yang lebih dikenal di Indonesia.

Slice Teknik mengiris ini biasa dipakai untuk mengiris bahan makanan dengan ukuran sama tebal atau tipisnya. Seperti potongan timun dan tomat dalam burger, atau sebagai hiasan dalam makanan (garnish). Teknik memotong slice juga dipakai untuk mengiris kue tart.

Wedges Teknik memotong sesuai bentuk. Misalnya pada buah seperti semangka, apel dan melon. Hal ini digunakan agar tidak merusak bentuk asli dari buah dan sayuran itu sendiri.

Brunoise mirip dengan macedoine, hanya saja diameternya lebih kecil lagi, sekitar 1mm di tiap sisinya. Doyan pastel atau risoles yang berisi sayuran? Metode pemotongan isianya menggunakan teknik ini.

Chiffonade merupakan Teknik memotong secara melintang. Jika pada salad potongan wortel dan lobak menggunakan Teknik Julienne, maka untuk kol/kubis anak F&B akan menggunakan teknik Chiffonade

 

Teknik memasak dan memotong ini merupakan ilmu dasar yang akan dijumpai di sekolah-sekolah perhotelan dengan konsentrasi F&B atau juga SMK Tata Boga.

Menurut saya semua sekolah kuliner pada dasarnya memiliki standar ilmu yang sama, hanya saja jenis bahan utama masakan yang lebih variatif di sekolah kuliner internasional membuat peserta didiknya mampu menyuguhkan menu-menu dengan nama yang lebih beragam.

Disamping itu penggunaan bumbu-bumbu dasar yang menjadi ciri khas masakan internasional juga masih agak sulit ditemukan di Indonesia. Seperti Rosemary, Tarragon, Saffron dan masih banyak lagi.







Selasa, 21 November 2023

Momen Kompasianer Diskusi Tanpa Kopi di Taman Margasatwa Ragunan


 



Ternyata tidak semua angka 13 adalah hal buruk. Nyatanya, di KOTeKAtrip 13 ini saya dapat kesempatan jadi salah satu kompasianer yang beruntung untuk jadi peserta. Sedapppp.

KOTeKAtrip 13 adalah sebuah event jalan-jalan dari Komunitas Traveler Kompasiana (KOTeKA) yang digawangi oleh Mbak Gaganawati Stegmann. Tujuan kali ini ke Taman Margasatwa Ragunan (TMR), akhirnya saya nggak pusing lagi cari tujuan liburan pekan ini untuk anak-anak di rumah.

Sesuai dengan tajuk "Ke Ragunan Bareng Kopaja71, yuk!" KOTeKA bekerja sama dengan komunitas Kopaja71 yang digawangi oleh Bang Edward Horas.

Sepuluh orang kompasianer yang ikut tur ke Taman Margasatwa Ragunan (TMR) ini, yakni: Ibu Palupi Mustajab (Koordinator Offline KOTeKA), Horas/Edward (Ketua Kopaja71/PO), Merza Gamal (Kopaja71) OmJay / Wijaya Kusumah (Kopaja71), Sutiono Gunadi -- (KOTeKA), Ajeng Leodita (KOTeKA /Pulpen), Inayat (Kopaja71), Nur Taufik (Kopaja71), Emma Malika (KOTeKA), dan Fenni Bungsu (Komunitas Film Kompasiana).


Koleksi Pribadi

Minggu, 19 November 2023. Sampai di TMR, kami langsung masuk ke area parkir kendaraan roda dua. Sebagai informasi, pihak parkir akan menanyakan apakah kita punya kartu debit atau kartu transportasi umum keluaran Bank DKI . 

Jika belum punya, maka kita akan diminta untuk membeli kartu tersebut seharga Rp45.000,- Harga tersebut sudah termasuk tarif parkir kendaraan roda dua Rp3.000/hari dan tarif masuk untuk dewasa Rp4.000/orang dan anak-anak Rp3.000/orang. 

Sebelum tur dimulai, semua peserta berkumpul di bawah pohon rindang dekat dengan pintu masuk utara. Walau peserta yang terpilih bisa dikatakan belum terlalu banyak, namun suasananya terasa lebih hangat. Kami punya banyak waktu untuk berbincang juga berbagi ilmu di dunia kepenulisan dengan akrab.

Tak hanya itu, tips menulis dari para kompasianer langganan Artikel Utama juga masuk dalam catatan saya. Do and Don'ts di Kompasiana juga dapat bocorannya, hahahha. Tak nampak ada kesenjangan antara kompasianer lama dan baru di sini, semua berbaur dalam obrolan yang seru.

Koleksi pribadi

Sambil ngobrol, kami dapat juga cerita dari Bu Palupi yang pernah mengunjungi kebun binatang di Afrika, katanya jika membandingkannya dengan TMR ini, kondisinya sangat jauh berbeda. Di Afrika kondisinya kelihatan kering dan gersang. Wajar saja, 

Taman Margasatwa Ragunan memiliki luas 147 hektar, taman ini merupakan "rumah" bagi 2.000 spesimen dan 50.000 pohon. Sehingga membuat suasananya tetap sejuk walaupun udara sedang terik-teriknya.

Taman ini mulanya berlokasi di jalan Cikini Raya. Berlokasi di atas tanah seluas 10 hektar pemberian Raden Saleh. Kemudian dipindah ke area Ragunan pada 1974 di bawah kepemimpinan Direktur pertama, Mr. Benjamin Galstaun. Sejak diresmikan, Ragunan sudah dipimpin oleh 11 Direktur.

Kembali diingatkan dengan waktu yang terus berjalan, kami pun bergegas untuk memulai rangkaian tur hari ini. Tujuan pertama adalah koleksi burung, kami berkesempatan untuk foto burung Puter Irak, Dederuk Jawa, Walik Mutiara, Delimukan Zamrud dan lain sebagainya.

Koleksi Pribadi

Tujuan selanjutnya adalah melihat Orang Utan. Kalau kata Om Sutiono, "Kita sudah ditunggu Saudara Tua." Dari informasi salah seorang petugas yang terlihat sedang membersihkan daun-daun kering di sekitar kandang, Orang Utan ini punya nama Ratna. Usianya 18 tahun dan sudah melahirkan sebanyak 2 kali.

Ratna Si Orang Utan/Koleksi Pribadi

Jangan kaget melihat kondisi Taman Margasatwa Ragunan yang kini bersih. Selain kepedulian pada kebersihan, juga bisa jadi karena pengunjung disadarkan dengan sejumlah banner imbauan yang bertuliskan "Membuang sampah sembarangan, denda 500k."

Kan jadi nggak lucu kalau masuknya cuma Rp4.000, keluarnya malah bayar Rp500.000, ya nggak? Makanya, jaga kebersihan selama berwisata di sini ya, eh, di semua tempat, deh.

Koleksi Pribadi

Di sepanjang jalan, jangan khawatir merasa haus dan lapar, banyak penjaja minuman dingin dan makanan ringan yang bertebaran.

Setelah berjalan kurang lebih 1 km, kami pun sampai di kandang kuda nil kerdil. Ada 2 ekor kuda nil yang kami lewati. Sayangnya kami tak bisa melihat dengan jelas, karena posisi kuda nil berseberangan dengan titik perhentian kami. Tapi cukuplah melihat mereka berendam dari kejauhan.

Kandang Kudanil/Koleksi Pribadi

Lokasi satwa yang terakhir kami kunjungi yakni cluster koleksi burung-burung bersayap indah seperti merak dan kasuari. Beberapa kali mata saya menangkap mereka mengibaskan sayap dan ekornya yang luar biasa menawan. 

Ya, ternyata memang seindah itu jika dilihat secara langsung. Juga Ketika mendengar suara mereka yang saling bersahutan membuat kami benar-benar seperti berada dalam hutan.

Merak Biru (Blue Peacock)/Koleksi Pribadi

Sesuai arahan Bu Palupi, kami diajak menuju tempat istirahat yang lokasinya cukup dekat dengan cluster burung-burung indah tadi. Berderet gerai makan minum yang hampir semuanya menawarkan menu yang sama. Pecel ayam, pecel lele, karedok, sop iga, bakso, sampai mie instan. Juga tersedia kopi, teh, jus dan minuman dingin yang lain.

Sambil kami memilih makanan, obrolan pun kami lanjutkan. Bu Palupi menyampaikan tur semacam ini dilanjutkan dengan tur-tur lain yang juga melibatkan kompasianer. Beliau juga berharap yang bisa bergabung semakin banyak.

Semua antusias dengan ide itu, dan menawarkan sejumlah lokasi yang mungkin bisa jadi tujuan selanjutnya. Seperti mengunjungi museum-museum di Jakarta yang jumlahnya sekitar 64 tempat. Seperti di area Kota Tua Jakarta, kita bisa berkunjung sekalian ke beberapa museum yang berlokasi di sana.

Walau tidak semua area di Taman Margasatwa Ragunan ini bisa kami kunjungi, namun acara ini sangat berkesan. Selain refreshing kami juga bisa kenal lebih dekat satu sama lain. Jarang-jarang terjadi, diskusi tanpa kopi, kan? Dan benar-benar terjadi di pertemuan ini., hihihi.

Keakraban semacam ini di antara sesama kompasianer harus terus berlanjut. Saya menyebut ini sebagai momen berkumpul dengan orang-orang positif, melakukan hal positif yang pada akhirnya akan memunculkan ide-ide positif juga.

Mengingat matahari yang makin tinggi, udara pun mulai panas, kami pun mengakhiri acara tur kali ini.

Semoga segera diadakan kembali acara-acara serupa yang bisa menambah wawasan serta pengalaman. Terima kasih banyak untuk KOTeKA dan Kopaja71 atas walking tour-nya.

Salam sayang,

Ajeng Leodita

Sabtu, 11 November 2023

Ajak Anak Membuka Perpustakaan Mini di Rumah




Sumber  gambar: www.jualrumahjakarta.com


Di era  tahun 1999-2000 cukup booming perpustakaan mini yang dibangun secara mandiri oleh orang-orang yang peduli pada kelestarian budaya membaca. Perpustakaan mini ini tidak hanya untuk saya pribadi, melainkan saya membukanya untuk umum. 

Saat itu saya baru duduk di bangku kelas 5 SD. Hobi membaca dan mengumpulkan buku membuat saya tertarik untuk membuka perpustakaan mini di rumah. Selain buku ada pula koleksi majalah bobo dan tabloid fantasi yang kala itu marak di kalangan anak-anak sekolah.

Mekanisme penyewaan buku di perpustakaan sekolah saya aplikasikan di perpustakaan mini yang ada di rumah. Mereka yang mau menyewa harus membuat kartu anggota yang bisa didapatkan secara cuma-cuma alias gratis. Kartu anggotanya juga dibuat cukup sederhana, hanya bermodalkan kertas karton yang dipotong segi empat seukuran KTP kemudian di-laminating.

Untuk anggota yang membaca di tempat, saya tidak pungut biaya, tapi jika bukunya dibawa pulang maka harus membayar 2000 rupiah. Dengan perincian 1000 uang sewa dan 1000 untuk deposit. Jika bukunya sudah dikembalikan maka uang deposit akan saya kembalikan juga. Jika menyewa lebih dari sehari, dikenakan biaya 500 per harinya.

Peminatnya kala itu terbilang lumayan. Ada yang tetangga sekitar rumah, ada pula teman-teman sekolah. Biasanya mereka justru lebih tertarik membaca komik dan majalah. Mungkin karena gambar-gambar ilustrasi membuatnya lebih eye catching. Ide ini akhirnya diikuti beberapa teman lain. Kemudian bermunculan 3-4 perpustakaan mini lain dengan koleksi buku yang lebih beragam.

Mulai duduk di bangku SLTP saya mulai tidak ada waktu untuk mengelola perpustakaan mini. Hal itu dikarenakan saya kebagian kelas yang masuk siang dari kelas 1-3. 

Belum lagi tiap pagi dan weekend ada ekskul yang saya ikuti, sehingga tidak memungkinkan membagi waktu lagi dengan aktivitas lain. Ditambah menjamurnya warnet-warnet yang tentunya lebih menarik anak-anak usia remaja. Walaupun saat itu internet belum terlalu digunakan untuk mengerjakan tugas sekolah, tapi cukup banyak anak yang  cenderung melarikan minat dari buku ke internet. 

Hal itu dikarenakan internet menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar bacaan. Jujur, memang untuk sebagian orang, aktivitas membaca buku fisik cukup membosankan.

Melihat dari polanya, perpustakaan mini merupakan salah satu bentuk usaha sosialisasi literasi baca tulis yang dianggap sebagai nenek moyangnya literasi. Di perpustakaan, anak-anak bisa membaca apapun yang mereka suka. Semakin banyak koleksi buku yang tersedia, maka ketertarikan mereka mendatangi perpustakaan akan semakin besar. 

Selain itu, membaca secara bersama-sama bisa menimbulkan euforia yang berbeda dari pada membaca sendirian di rumah. Ingat, anak-anak berbeda dengan kita yang sudah dewasa. 

Jika kita senang membaca buku dalam situasi yang hening, mereka belum tentu bisa menikmati suasana yang sama. Pada hakikatnya anak-anak itu masih gemar bermain.

Waktu bergerak begitu cepat, melihat anak yang sudah sekolah, entah mengapa minat membuka perpustakaan mini itu muncul lagi. Perpustakaan yang nantinya dikelola oleh anak saya sendiri. Saya bagian mengawasi saja, hehehe. Ditambah lagi dengan masih adanya anak-anak yang duduk di bangku SD kelas 1 dan 2 yang belum bisa membaca. Juga koleksi buku di perpustakaan sekolah yang bisa dikatakan sangat sedikit. 

Sayangnya koleksi buku saya jaman itu banyak yang hilang, karena sempat pindah rumah. Ada yang ngga terbawa ada juga yang memang hilang entah di mana. 

Untuk teman-teman ada nggak yang sepemikiran dengan saya untuk membuka sebuah perpustakaan mini untuk anak kita yang kemudian bisa dimanfaatkan oleh banyak orang?

Belajar dari pengalaman saat SD dulu, beberapa hal yang harus dilakukan dan dipersiapkan untuk membuka sebuah perpustakaan mini antara lain:



Menyiapkan tempat yang nyaman

Sesuai judulnya, perpustakaan mini, diartikan sebagai sebuah perpustakaan yang cukup terbatas, baik dari segi koleksi buku maupun lokasinya. Walau begitu tetap kita harus bisa menyiapkan tempat yang nyaman untuk pengunjung. Walau tidak harus selalu besar tapi tatanan yang rapi dan kondisi yang bersih adalah aspek pendukung terciptanya rasa nyaman itu sendiri. 

Kalau dulu saya menggunakan teras rumah yang digelar karpet atau tikar. Juga ada tambahan kipas angin agar mereka nggak kegerahan mampir di siang hari.



Rak buku

Waktu itu saya menggunakan rak seadanya, karena tidak mau merepotkan orang tua. Rak-rak berbahan rotan saya manfaatkan untuk meletakkan buku-buku yang ditata sesuai tema. Kalau nggak punya, bisa juga memanfaatkan kreatifitas dengan membuat rak dari kardus bekas yang disusun. Bisa belajar dari youtube, sudah banyak yang membagikan ide-ide kreatifnya. Ajak anak dalam proses ini, sehingga dia tahu untuk memulai sebuah usaha ada sebuah kerja keras di belakangnya.



Perbanyak koleksi buku

Dulu saya memang senang membeli buku, majalah anak dan tabloid remaja. Karena saya membidik teman-teman dari tingkat SD sampai dengan SLTP. Sehingga untuk koleksi bisa dikatakan jumlahnya lumayan. Namun ada juga cara lain yang bisa digunakan untuk menambah koleksi buku tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. 

Misalnya membuat program hibah buku, dalam hal ini kita yang menerima hibah buku dari berbagai pihak, sampaikan ide perpustakaan mini Anda menyasar ke usia berapa. 

Bisa juga mencari informasi toko buku yang membuat sale besar-besaran, atau bisa coba menghubungi toko buku yang berencana menutup usahanya. 

Ajak anak memilih buku yang nantinya dipakai untuk menambah koleksi buku di perpustakaan mini mereka sehingga kita sebagai orang tua pun paham, di usia seperti mereka yang masuk dalam gen Z ini, buku seperti apa yang menarik perhatiannya.



Memasang banner lebih awal

Ada orang yang salah kaprah dalam memulai sebuah usaha, yakni memasang banner saat semuanya sudah ready beroperasi. Walau perpustakaan mini ini bukan sebuah bentuk usaha komersil, namun tetap di sini kita berencana memasarkan koleksi buku yang kita punya agar bisa dibaca banyak orang.

Saya melihat dari beberapa bisnis besar, banner itu justru dipasang jauh hari sebelum soft opening. Alasannya supaya orang melihat dulu, supaya membayangkan jika di lokasi ini akan dibangun sebuah perpustakaan mini, dan biar ceritanya sampai dulu dari mulut ke mulut.



Bekerjasama dengan perangkat daerah

Di tiap lingkungan pasti ada RT, RW, pengurus PKK dan karang taruna. Minta bantuan untuk ikut memasarkan perpustakaan mini ini. Bisa juga ajak mereka ikut berkontribusi secara langsung dalam mengelolanya. 

Perpustakaan mini erat kaitannya dengan perkembangan pendidikan, hal ini juga merupakan salah satu dari 10 Program Pokok PKK yakni, pendidikan dan keterampilan.



Bekerjasama dengan guru atau sekolah yang dekat dengan rumah

Tidak bisa dipungkiri dan dari pengalaman pribadi, masih banyak SD Negeri yang tidak terlalu aware dengan koleksi buku di perpustakaannya. Biasanya yang ada kebanyanyakan adalah buku-buku berbasis kurikulum. Dengan keterbatasan itu, coba untuk tawarkan pada guru-guru di sekolah terdekat yang sekiranya bisa ikut mempromosikan perpustakaan mini kita.



Buat konsep seru

Membaca buku untuk sebagian orang adalah hal yang menjemukan alias membosankan. Coba ciptakan konsep yang membedakan perpustakaan mini kita dengan yang lain. Mungkin dengan tambahan sesi dongeng seminggu sekali (nah ini bisa kayaknya melibatkan ibu-ibu PKK atau remaja karang taruna).  Membuat kuis berhadiah juga menarik perhatian anak-anak, lho

Atau membuat lomba menulis dan membaca puisi, ini salah satu bentuk implementasi dari usaha sosialisasi literasi baca tulis. Kalau saya dulu memang belum sampai begini, paling hanya menyediakan minuman dingin dan cemilan supaya teman-teman yang datang betah membaca banyak buku. Karena jujur, orang tua saat itu hanya memberikan sarana dan prasarana, bukan ide-ide yang menunjang perkembangan perpustakaan mini saya. 


Demikian tahap-tahap pembuatan perpustakaan mini berdasarkan pengalaman saya waktu kecil. Sayangnya, tidak bisa menampilkan dokumentasinya, karena saat itu saya masih SD dan belum dibekali gawai oleh orang tua, hiksss..



Semoga bermanfaat, ya.

Salam sayang,

Ajeng Leodita